Meluruskan Sejarah Al-Qur’an
Al-Quran adalah kitab suci kaum muslimin. Tak ada yang
mengingkari hal itu seorang pun. Bacaan yang wajib diyakini oleh muslimin
sebagai kalam Allah itu begitu indah dan sempurna. Dari sastra sampai maknanya
melampaui tingkat luar biasa. Karena bacaan itu memang bukan buatan manusia.
Melainkan kalam Allah yang diwahyukan pada Nabi-Nya Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam. Al-Qur'an dari awal turunnya sudah memberi sebuah tantangan
jika ada yang meragukan keasliannya dari Allah. Kalau memang Al-Qur'an ini
buatan manusia, silakan buat yang semisal. Dan kalaupun bisa, kwalitasnya tak
akan bisa dibandingkan dengan Al-Qur'an.
Tapi di zaman muslimin sudah bertebaran di seluruh
penjuru dunia, dan Al-Qur'an pun sudah dicetak jutaan kali, sudah dikhatamkan
beribu kali tanpa ada sedikit pun pengingkaran, muncullah sekelumit orang
dengan pandangan barunya tentang Al-Qur'an yang membuat banyak pihak
mengerutkan dahi. Sebut saja salah satu namanya Luthfi Assyaukani. Orang yang
mengakui dirinya sebagai aktivis Islam liberal ini menawarkan sebuah pemikiran
baru yang belum pernah terbaca sebelumnya dalam literatur keislaman. Semoga
saja hal ini bukan karena kesengajaan untuk menyesatkan ummat Islam dan
membelokkan sejarah Al-Qur'an. Mungkin karena kurangnya kefahaman, sehingga
bisa menerima pemahaman lain yang lebih benar.
Jika kaum muslimin selama ini meyakini bahwa mushaf
Al-Qur'an yang biasa mereka baca adalah
kalam Allah yang diturunkan pada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
secara lafal dan makna, Luthfi Assyaukani mempunyai pandangan lain. Beliau
berpandangan bahwa keyakinan seperti itu hanya merupakan formulasi dan
angan-angan teologis yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari
formalisasi doktrin-doktrin Islam.
Luthfi Assyaukani menawarkan paparan sejarah tentang penulisan
Al-Qur'an yang begitu melenceng dari sejarah yang tertulis dalam
literatur-literatur Islam. Al-Qur'an yang sekarang kita dapati hanyalah sebuah
inovasi yang umurnya tak lebih dari 79 tahun, begitu paparnya dalam sebuah
kolom di sebuah media cetak.
Untuk itu, pada artikel ini akan dipaparkan sejarah
Al-Qur'an yang tertulis dalam literatur-literatur Islam. Perlu diketahui, dalam
sejarah pengumpulan Al-Qur'an, memang tidak sedikit didapati perdebatan dan
perselisihan antar ulama. Akan tetapi, ulama sama sekali tidak menutup-nutupi
sejarah tersebut karena bagaimanapun perselisihannya tidak bisa mengurangi keotentikan
Al-Qur'an.
Meluruskan Sejarah Al-Qur'an
Sebelumnya kita harus benar-benar meyakini bahwa
Al-Qur'an yang sampai ditangan kita sekarang adalah kalam Allah yang diwahyukan
pada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam secara lafal dan makna. Al-Qur'an
yang merupakan kitab suci ummat Islam memang mempunyai sejarahnya sendiri.
Sejarah Al-Qur'an ini amat penting untuk diketahui ummat Islam secara luas.
Mengingat banyak pemelintiran sejarah Al-Qur'an yang dapat menggoyahkan
keyakinan muslimin pada Al-Qur'an sebagai kitab suci tanpa cela.
Al-Qur'an diturunkan tidak mungkin diturunkan berbentuk
seperti cetakan buku yang sekarang kita miliki. Bagaimana bisa Al-Qur'an
menjadi sebuah kumpulan kalam Allah? Sudah adakah alat tulis yang memadai untuk
percetakan Al-Qur'an saat wahyu pertama kali turun?
Al-Qur'an saat turun pada Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam melalui malaikat Jibril tidak berbentuk tulisan. Melainkan
sebuah kalimat yang dibacakan oleh malikat Jibril untuk dihafal Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam. Wahyu yang turun itu kemudian disampaikan oleh
beliau kepada para sahabatnya. Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tujuh cara baca. Hal itu untu memudahkan
ummat Nabi Muhammad yang teridiri dari berbagai suku dan bangsa. Jika Al-Qur'an
hanya diturunkan dengan satu cara baca, suku yang tidak terbiasa dengan cara
baca yang digunakan Al-Qur’an akan kesulitan.
Untuk membantu ingatan para sahabat dalam menghafal wahyu
yang disampaikan, Nabi menyuruh mereka untuk menulisnya di atas tulang,
lempengan, atau pelepah kurma. Meskipun agak berantakan, tapi Nabi mengontrol
sendiri letak-letak ayat dan suratnya. Proses itu terus berlangsung sampai Nabi
wafat, karena wahyu juga telah diputus.
Seiring berjalannya waktu, banyak peperangan yang
dilakukan oleh muslimin untuk menaklukkan berbagai negri. Akibatnya para
sahabat penghafal wahyu pun semakin berkurang. Abu Bakar radliyallahu ‘anhu
sebagai khalifah pertama di masa itu mempunyai sebuah inisiatif untuk
mengumpulkan Al-Qur'an yang sebelumnya ditulis terpisah-pisah dan dihafal oleh
banyak sahabat. Di masa beliau, Al-Qur'an ditulis dalam lembaran-lembaran agar
wahyu yang dihafal tidak berkurang bersama wafatnya para penghafalnya. Lembaran-lembaran
itu akhirnya terkumpul dan hanya berbentuk satu buah dan disimpan di kediaman
Abu Bakar radliyallahu ‘anhu.
Pada zaman Utsman bin Affan, jumlah muslimin semakin
bertambah di berbagai penjuru negri. Suatu hari ada seorang sahabat mendapati
percekcokan di antara muslimin hingga berani saling mengkafirkan. Percekcokan
itu ditimbulkan akibat perbedaan cara baca yang didapatkan oleh muslimin di
berbagai daerah, mengingat Al-Qur'an tidak hanya diturunkan dengan satu cara
baca, melainkan tujuh. Di Syam orang-orang belajar membaca Al-Qur'an dari Ubay
bin Ka’b. Sedangkan di Kufah orang-orang belajar membaca Al-Qur'an dari
Abdullah bin Mas’ud. Masing-masing mereka mempunyai cara membaca yang berbeda.
Sehingga para muridnya yang tidak mengerti bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan
tujuh cara baca, akan saling berselisih dan saling menyalahkan.
Kabar percekcokan itu sampai pada Khalifah Utsman bin
Affan. Untuk menanggulangi hal itu Utsman bin Affan hendak mengumpulkan
kemballi Al-Qur'an seperti pada zaman Abu Bakar. Hanya saja di zaman Utsman,
Al-Qur'an di cetak dalam bentuk buku yang menyatukan berbagai bacaan. Untuk
langkah pertama Utsman mengambil naskah Al-Qur'an yang telah dikumpulkan pada
zaman Abu Bakar dari rumah Hafsah binti Umar. Pengumpulan Al-Qur'an di zaman Utsman
berlandaskan naskah Al-Qur'an itu dan juga hafalan para sahabat yang masih
hidup. Dalam pengumpulan ini, Utsman benar-benar teliti dalam menentukan mana
yang wahyu dan mana yang hanya penjelasan.
Dalam pengumpulan ini Utsman tidak semena-mena
menghilangkan tujuh cara baca pada Al-Qur'an. Utsman menulis Al-Qur'an ini
tanpa titik dan harokat, agar satu lafal bisa dibaca dengan tujuh cara baca.
Sebab, perbedaan cara baca sangat tipis dan tidak keluar dari makna yang
dimaksud. Kali ini Utsman mencetak Al-Qur'an sebanyak tujuh buah. Lalu
disebarkan di kota-kota penting kala itu. Setelah selesai pengumpulan ini, Utsman
memerintahkan untuk membakar semua lembaran atau kumpulan wahyu selain
Al-Qur'an cetakannya. Hal itu dilakukan agar tidak lagi terjadi perselisihan
dan saling menyalahkan antar muslimin karena perbedaan lembaran yang mereka
baca. Dengan hanya satu cetakan Al-Qur'an, muslimin tidak bisa berselisih lagi.
Sebab, acuan mereka dalam membaca Al-Qur'an hanya satu.
Perlu ditekankan disini bahwa tindakan Utsman ini bukan
semena-mena dari otoritas Utsman sebagai khalifah. Semua proses pengumpulan
didahului dengan kesepakatan para sahabat sebagai saksi turunnya wahyu yang
masih hidup. Mengenai pembakaran dan pemusnahan Al-Qur'an selain cetakan
Utsman, memang ada sedikit sahabat yang mulanya tidak setuju. Seperti Abdullah
bin Mas’ud yang pada awalnya begitu mengecam pemusnahan wahyu ini. Tapi seiring
berjalannya waktu, manfaat yang timbul akibat tindakan Utsman ini benar-benar
terasa karena telah menyelamatkan ummat dari perselisihan. Pada akhirnya semua
sahabat menerima tindakan Utsman itu dan menjaga mushaf Al-Qur'an dengan baik.
Seiring berjalannya waktu, alat percetakan bertambah
maju. Al-Qur'an yang awalnya hanya berjumlah tujuh buah dan tanpa titik serta
harakat, kini berjumlah jutaan dan sangat mudah untuk dibaca lengkap dengan
titik dan tanda baca. Pada masa modern ini, karena Al-Qur'an sudah dilengkapi
titik dan tanda baca, satu cetakan Al-Qur'an hanya bisa dibaca dengan satu cara
baca dari tujuh cara baca yang ada. Agar muslimin tidak saling berbeda dalam
membaca Al-Qur'an, ulama menetapkan satu cara baca yang menjadi standar cara
baca Al-Qur'an di seluruh dunia, yakni cara baca yang diriwayatkan oleh Imam
Hafs dari Asim. Cara baca itulah yang kemudian menjadi cara baca standar untuk
dibaca di setiap shalat. Sebenarnya di zaman modern ini masih banyak cetakan
Al-Qur'an dengan cara baca yang lain, seperti cara baca yang diriwayatkan oleh
Imam Warasy dan Imam Ibnu Katsir. Hanya saja Al-Qur'an dengan cara baca itu
tidak sebanyak Al-Qur'an dengan cara baca Imam Hafs yang menjadi standar.
Dari paparan sejarah pengumpulan Al-Qur'an ini, dapat
diketahui bahwa Al-Qur'an yang kita baca saat ini masih asli seperti saat
pertama kali dibacakan pada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Jikapun ada kesalahan atau kekurangan dalam cetakan Al-Qur'an yang sekarang
kita baca, pasti ribuan ulama sebelum kita sudah membetulkannya sejak dulu.
Sebab, sejak zaman Utsman sampai sekarang, Al-Qur'an tidak pernah dirubah dan
selalu mejadi rujukan berbagai permasalahan serta dibaca oleh ribuan ulama.
Jadi, kalau di zaman ini ada orang yang mengatakan bahwa Al-Qur'an yang biasa
kita baca hanyalah sebuah inovasi modern sangatlah bertentangan dengan fakta
sejarah yang sebenarnya. Terlebih lagi bila menyatakan bahwa keyakinan
mayoritas muslimin tentang Al-Qur'an hanya merupakan formulasi dan angan-angan
teologis yang dibuat para ulama. Pernyataan itu adalah penyesataan tanpa bukti
yang tidak dapat dibenarkan sedikitpun.
Semoga muslimin tidak terpengaruh dengan penyesatan ini
sehingga dapat menimbulkan keraguan yang dapat menjerumuskan kepada kekafiran.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan cahaya penerang kepada para pemikir
liberal agar dapat menjalani agama Islam ini melalui jalan yang benar. Wallahu
a’lam bishshsawab.
Referensi: Manahilul ‘Urfan fi ‘Ulumil Qur`an dan Jam’ul
Qur`an; Dr. Akram Abdu Khalifah Addulaimi.
( Artikel ini adalah bandingan untuk artikel Luthfi
Assyaukani dalam buku Ijtihad Islam Liberal dengan judul Merenungkan
Sejarah Al-Qur'an )

0 komentar:
Posting Komentar