Home » » Di Balik Konflik Suriah

Di Balik Konflik Suriah


Di Balik Konflik Suriah, Amerika?

Suriah masih bersimbah darah. Negri yang dulu bernama Syam ini tengah memeram perih yang begitu mendalam. Negri yang menyimpan jutaan sejarah keislaman itu kini sedang porak poranda oleh muslimin sendiri. Pembantaian merebak ke seluruh penjuru kota. Anak-anak, orang tua, wanita semuanya berselimut air mata, belumuran darah. Yang lebih miris lagi, tidak banyak yang memberikan uluran tangannya. Kita mengenal komite kesehatan muslimin internasional Mer-C. Komite yang dikepalai oleh Jose Rizal ini sampai enggan menurunkan tangannya yang telah menolong berbagai konflik muslimin di berbagai belahan dunia untuk konflik Suriah. Mesir pun turut enggan ikut campur dalam konflik kali ini. Meskipun banyak pihak yang mau memberikan pertolongan, tapi banyak pula yang angkat tangan.
Konflik kali ini memang beda dengan konflik Palestina yang begitu keji antara tentara Zionis dan rakyat sipil Palestina yang muslim. Tidak juga seperti konflik Rohingya yang berupa diskriminasi pemerintah Budha terhadap warga muslim. Beda pula dengan konflik Ambon yang meletus antara orang Nashara dan Muslimin. Konflik suriah meletus antara dua kubu muslimin yang seharusnya saling berkasih sayang. Pihak pemerintahan Bashar Assad yang didominasi kaum Syiah mengerahkan militernya untuk membantai warga muslimin lainnya yang berpaham Sunni. Media memberikan gambaran yang begitu mengerikan dari pembantaian antar muslimin ini.
Mungkin itulah yang menjadi alasan mengapa banyak pihak yang tidak mau ikut campur dalam konflik kali ini. Ketika terjadi konflik antara orang kafir dan muslimin seperti di Palestina atau Rohingya, mudah saja kita menentukan langkah. Tanpa ragu, senjata kita pasti menghadap ke kubu orang kafir. Tapi jika konflik antar muslimin, mau kemana kita arahkan senjata kita. Jika ke arah kaum Syiah, di satu sisi memang kita membantu muslimin Sunni. Di saat yang bersamaan kita sedang memsuhi muslimin lain yang berpaham Syiah. Begitupun sebaliknya. Sebagian muslimin mungkin merasa lebih aman ketika tidak ikut campur dalam masalah ini. Kejadian ini memang seperti fitnah yang pernah melanda kaum muslimin di zaman imam ‘Ali radliyallahu ‘anhu.
Sekarang mari kita mencoba memandang konflik ini dari arah lain. Media sebagai pembentuk opini massa sangat banyak menampilkan bahwa kaum Sunni di Suriah sedang terbantai oleh kaum Syiah dengan senjata militer. Tapi ternyata, video yang menggambarkan bahwa kaum Sunni melakukan kedzoliman terhadap kaum Syiah juga banyak. Hanya saja, media tak banyak menampilkannya. Kenapa? karena media dikuasai oleh Amerika. Lantas apa hubungannya pihak Amerika dengan konflik ini?
Begini, Timur Tengah sebagai negri penghasil minyak terkaya di dunia kini sedang diincar oleh Amerika. Sebagian banyak negri-negri di Timur Tengah telah berhasil dikuasai oleh Amerika. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki semuanya telah berada dalam cengkraman Amerika. Dari semua kebanyakan negri itu, mayoritas penduduk dan pemerintahannya adalah kaum Sunni. Di Timur Tengah hanya tingal negri-negri yang didominasi kaum Syiah saja yang belum terjangkau cengkraman Amerika, seperti Iran, Lebanon, dan Suriah. Dalam konflik ini Amerika cenderung mendukung kubu Sunni, bahkan kaum Sunni mendapat bantuan persenjataan dari Amerika. Dengan langkah membuat permusuhan antara Sunni dan Syiah, Amerika akan mendapat keuntungan melemahakan salah satu musuhnya di Timur Tengah. Terlebih lagi, Amerika memberikan stigma pada dunia bahwa Syiah telah berbuat kekejaman terhadap warga Sunni. Dengan begitu dunia akan menurunkan bantuan membela Sunni dan menyerang Syiah. Amerika hanya menunggu tumbangnya pemerintah Syiah dari Suriah. Setelah itu golongan Syiah yang menjadi musuhnya di Timur Tengah hanya tinggal Iran dan beberapa negara kecil lainnya.
Dari pengakuan salah satu warga Indonesia lulusan Universitas di Suriah, terungkap sebuah fakta bahwa sebelum terjadi konflik warga Sunni dan Syiah sangat rukun. Tak pernah terjadi keributan yang berarti di antara dua kubu. Perbedaan pendapat di antara mereka bukanlah sebuah pemisah yang berarti. Lalu siapa pemicu konflik ini? Siapakah yang diuntungkan dari konflik ini? Adakah kaitannya dengan konflik ini? Sudah jerakah musuh Islam membuat konflik antara muslimin dan kafir? Saat muslimin saling bertempur siapa yang rugi dan siapa yang untung?         
Sekarang, saat ada muslimin yang enggan ikut campur dalam konflik ini, masihkah kita bersu’u dzhon kepada mereka? Pada saat yang bersamaan, Amerika menikmati keuntungan dari konflik ini. (Sumber: Analis Pejuang Islam)

Thanks for reading Di Balik Konflik Suriah

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar